Minggu, 24 Mei 2015

3 Tragedi Tanah Longsor Dahsyat di Indonesia

Innalillahi, Longsor Terjadi Lagi di Banjar Negara


Bencana berskala dahsyat yang melanda Indonesia tak hanya berkutat pada tiga tersangka utama saja: gempa bumi, tsunami, ataupun gunung meletus. Selain tiga ancaman tersebut, masih ada satu fenomena alam lain yang jika dibiarkan dan tak mendapat intervensi menyeluruh akan membawa dampak yang mematikan pula, yaitu ancaman bencana alam tanah longsor.

Berikut merupakan rangkuman 3 kejadian tanah longsor mematikan yangmelanda Indonesia, terhitung sejak awal tahun 2000 hingga kini.
1. Tanah Longsor Banjarnegara
Belum hilang dalam ingatan, bagaimana pertengahan Desember tahun lalu, peristiwa tanah longsor dahsyat menghantam Dusun Jemblung, Desa Sampang, Banjarnegara. Jumat sore (12/12) menjelang maghrib, hujan belum sempat menampakkan redanya. Dalam waktu kurang dari lima menit, tanah longsor mematikan menimbun 105 rumah warga di tiga desa sekaligus. Akibatnya fatal, seratus lebih korban jiwa melayang tertimbun longsoran tanah. Tebing setinggi 100 meter di Desa Sampang, Karangkobar, Banjarnegara tersebut memang mulanya diklasifikasikan sebagai daerah longsor berpotensi sedang dan tinggi. Catatan penulis menunjukkan bahwa tanah longsor Banjarnegara terjadi akibat material penyusun bukit Tegallele yang merupakan endapan vulkanik tua dan lapuk. Ditambah hujan deras yang tak berhenti mengguyur sejak dua hari sebelumnya menyebabkan tanah jenuh terhadap air.

2. Tanah longsor Bahorok, Sumatera Utara
Senin, 3 November 2003 silam. Bukit curam yang berada di sekitar Desa Bukit Selawang, Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara tersapu oleh longsoran tanah yang membawa air bah limpahan sungai Bahorok. Akibat kejadian ini 90 orang dilaporkan tewas dan ratusan orang lainnya menderita luka dan hilang terbawa arus banjir. Berdasarkan catatan kebencanaan dari Walhi, longsor dan banjir bandang Bahorok terjadi akibat kerusakan hutan karena penebangan liar yang tak terkendali. Kala itu, 170 ribu hektar taman nasional Gunung Leuser dari luas total 788 ribu hektar rusak parah akibat penebangan hutan.
3. Tanah Longsor Situ Gintung, Tangerang
Jumat, 27 Maret 2009, tragedi mencekam menyeruak di wilayah pinggiran kota Jakarta. Situ Gintung yang terletak di Kelurahan Cirendeu, Kecamatan Ciputat, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten tiba-tiba Jebol di waktu subuh. Bencana tersebut menewaskan kurang lebih sekitar 7 orang dan menenggelamkan ratusan rumah yang berada di sekitarnya. Hasil investigasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVG) menjelaskan bahwa bencana terjadi karena jebolnya tanggil selebar ± 65 meter, yang diikuti oleh gerakan tanah longsoran pada tanggul dengan panjang antara 3-7 meter, dan lebar antara 3-8 meter. Penyebab jebolnya tanggul secara keseluruhan terjadi karena curah hujan yang tinggi kala itu, kemudian adanya retakan pada tanggul serta limpahan air yang melebihi kapasitas. Apalagi ditambah kontur tanah di sekitar kawasan tersebut yang sangat curam. (IJL)

Kamis, 21 Mei 2015

Tanah Longsor di Indonesia

Tanah Longsor Sukabumi
                                  Bencana Alam Tanah Longsor di Indonesia
Selain bencana alam masif berupa gempabumi, tsunami, hingga gunung meletus yang mengancam nusantara, ancaman lain yang berwujud pergerakan tanah pun tak bisa diabaikan. Pergerakan tanah atau yang sering disebut bencana alam tanah longsor amat sering terjadi tiap tahunnya. Kondisi geologis tanah di Indonesia yang rata-rata terdiri dari tanah lempung yang lunak memberikan ancaman longsoran tanah di sejumlah wilayah Nusantara. Jumlah kerugian dan nyawa yang harus melayang sebagai korban bencana alam tanah longsor pun tak dapat dipandang sebelah mata.
Berdasar catatan kejadian bencana alam, hampir seluruh pulau besar di nusantara memiliki kabupaten dan atau kota yang berpotensi mengalami ancaman tanah longsor. Ciri utamanya adalah wilayah yang memiliki relief dan rupa tanah yang kasar, lembek, dengan lereng terjal. Kondisi tanah seperti itu yang banyak terhampar khususnya di Pulau Jawa diperparah oleh curah hujan yang tak menentu, terkadang kering namun sering pula hujan deras tanpa henti, ditambah pula oleh ancaman bencana alam gempa bumi yang dapat menjadi pemicu longsoran tanah.
Secara umum, ancaman bencana alam pergerakan tanah membayang di daerah dataran tinggi dengan kontur perbukitan. Contoh kejadian terakhir, tanah longsor yang menimbun ratusan rumah warga di Pangalengan dan Banjarnegara terjadi di wilayah perbukitan yang tanahnya labil akibat dilanda hujan deras.
Risiko bencana alam tanah longsor memang dipengaruhi oleh faktor kepadatan dan kerentanan penduduk yang berada di lokasi rawan pergerakan tanah. Kondisi bangunan dan infrastruktur di sekitar pergerakan tanah pun menjadi pemicu sejauh mana risiko kerugiannya.
Akibat yang paling nyata dari bencana alam tanah longsor adalah tertimbunnya desa atau kelompok masyarakat yang hidup persis di atas atau di bawah bukityang labil tanahnya. Jika hujan deras sudah melanda tanpa henti, dan tanah di lereng perbukitan merupakan tanah lempung sepertinya jamaknya jenis tanah di Pulau Jawa, maka kewaspadaan akan pergerakan tanah patut diwaspadai.
Kerusakan yang diakibatkan oleh bencana alam tanah longsor memang tak sebanding jika dibandingkan dengan catatan kerugian bencana alam lain di Indonesia. Namun, kewasapadaan dan proses mengurangi risiko tetap harus diperhatikan. Hutan dan pepohonan lebat sebagai pencegah utama longsoran tanah tetap harus dijaga kelestariannya. Karena pada kenyataannya, bencana alam tanah longsor, banjir, dan kekeringan terjadi akibat ulah tangan manusia itu sendiri yang tak bisa merawat dan menjaga hutan sebagai alat utama resapan air dan pengikat tanah di lereng-lereng berbukit.
Ratusan nyawa yang tertimbun dalam bencana alam tanah longsor di Banjarnegara dan Pangalengan beberapa bulan silam setidaknya mampu menjadi pelajaran bagi masyarakat lain yang tinggal di jenis lokasi serupa khususnya di Pulau Jawa. Hanya butuh waktu tak lebih dari sepuluh menit untuk menenggelamkan satu dusun dengan 300 lebih penduduknya di Banjarnegara, Jawa Tengah. Pun serupa dengan yang terjadi di Pangalengan, bencana alam tanah longsor Pangalengan hanya perlu waktu 10 menit untuk menerjang bentangan desa seluas 1 Km persegi yang berada persis di bawahnya. (IJL)
SUMBER

Rabu, 20 Mei 2015

Longsor Kediri, warga mengungsi

Longsor Kediri, Empat Dusun Terisolir



KEDIRI – Longsor terjadi akibat hujan deras yang mengguyur Kabupaten Kediri. Longsoran juga menyebabkan 29 rumah rusak tertimbun longsor dan dua diantaranya rata dengan tanah. Rumah yang tertimbun longsor itu berada di Desa Pamongan, Desa Petungroto, Desa Surat, serta Desa Blimbing.

Longsor juga terjadi bukan hanya di daerah dataran tinggi kawasan Gunung Wilis, namun juga  di bantaran Sungai Brantas. Di sekitar bantaran sejumlah rumah rusak akibat halamannya tergerus aliran air sungai  akibat diterjang derasnya air limpahan dari Gunung Wilis , Minggu (15/2).

Ratusan kepala keluarga (KK) yang tersebar di empat dusun di Kecamatan Mojo Kabupaten Kediri, Jawa Timur yakni, Jeti, Juron, Sugihan dan Dusun Beru di Desa Blimbing terisolir akibat longsoran tanah menutupi  akses jalan utama antar Desa, Minggu malam (15/2).

Warga di dua wilayah itu hingga Senin (16/2) mengungsi mandiri ke rumah kerabat dan tetangga karena rumah mereka tak bisa ditinggali.  Mereka meninggalkan rumah pada malam hari dan kembali ke rumah di siang hari.

"Warga kuatir terjadi longsor susulan mengingat tebing yang kami tempati dalam keadaan retak begitu juga dengan bangunan rumah kami," kata Winarti warga setempat seperti dikutip oleh Radar Kediri.

Sementara itu akses jalan yang terputus total hingga Senin sore masih diupayakan oleh aparat gabungan TNI dan Polri untuk dibuka menggunakan alat seadanya. "Akses jalan yang terputus karena timbunan material tanah longsor ada di dua titik. Pembukaan akses jalan dilakukan dengan alat seadanya sembari menunggu alat berat dari Pemkab Kediri," jelas AKP Sokhib Dimyati Kapolsek Mojo.

Seperti diketahui bencana tanah longsor melanda Dusun Juron setelah tebing setinggi 30 meter runtuh akibat diguyur hujan selama 5 jam tanpa berhenti. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam musibah tersebut. Tetapi kerugian material diperkirakan hingga ratusan juta rupiah. Saat ini Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri yang baru terbentuk tengah melakukan pendataan. ACTNews

Selasa, 19 Mei 2015

Jenazah Berhasil Ditemukan di Longsoran kabupaten Bandung


BANDUNG – Di hari ketiga, Kamis (7/5), proses evakuasi korban yang tertimbun longsor di Kampung Cibitung, Desa Margamukti, Kecamatan Pengalengan, Kabupaten Bandung, menuai hasil. Satu orang korban bernama Nurul (8), berhasil ditemukan tim ACT dan MRI, siang tadi.

“Alhamdulillah kami bersama tim berhasil mengevakuasi satu jenazah anak kecil,”tutur Ketua MRI Kabupaten Bandung, Atep Salman Al Farisi.

Tim Evakuasi mengalami kesulitan dalam melakukan proses evakuasi. Menurut Atep, tumpahan longsornya cukup luas mencapai sekitar 1 hektar 500 meter, dengan kedalaman longsor mencapai 5  hingga 7 meter.

“Kita sulit mencari titik korban, kalau kedalaman 1 sampai 3 meter insyaAllah kami  bisa jangkau dengan cangkul, namun kalau lebih, kami merasakan kesulitan. Harus memakai alat berat,”keluhnya.

Di hari ketiga evakuasi korban yang tertimbun longsor, PT. Geothermal Star Energy menurunkan 4 alat beratnya untuk membantu pencarian jenazah oleh tim evakuasi.

Tim evakuasi dibagi menjadi tiga tim, yang proses pencariannnya, disebar di tiga sektor: pertama, di sektor pemukiman, kedua, di tempat pemancingan, ketiga, di tempat lahan 'sabit rumput'.

“Dipimpin oleh Basarnas, kita melakukan proses evakuasi dari pukul 8.00 sampai pukul 12.00 Istirahat 1 jam, dilanjutkan lagi pukul 13.00 hingga  pukul 17.00 WIB,”jelas Atep.

Jika terjadi hujan, maka proses evakuasi terpaksa dihentikan, untuk mengantisipasi longsor susulan yang bisa saja terjadi, karena kontur tanahnya sangat rentan terjadi longsor lagi.

“Kini sekitar 9 orang atau lebih jenazah yang masih tertimbun, mudah-mudahan kami dan tim segera menemukannnya,”harap Atep.(mhjr)  

SUMBER

Longsor Pangalengan


BANDUNG – Sebanyak 203 Pengungsi korban longsor  di Kampung Cibitung, Desa Margamukti, Kecamatan Pengalengan, Kabupaten Bandung mengakui bantuan pangan dan obat-obatan sangat berlimpah. Hanya yang sedikit susah adalah ketersediaan air bersih dan MCK.
 
Usai shalat maghrib, Jumat petang (9/5/2015) nampak seorang pria berceramah di hadapan anak-anak pengungsi di atas panggung yang tersedia di Balai Desa Margamukti. Anak-anak nampak serius mendengarkan, sesekali tertawa dengan humor dari penceramah, seorang pria muda.
 
Iyus, salah seorang pengungsi, mengaku mengungsi bersama-sama di Balai Desa karena memang tak punya pilihan lain selain tinggal di sana. 
 
“ Bantuan makanan tidak susah. Penyaluran bantuan lancar. Obat-obatan juga aman. Yang sedikit susah adalah ketersediaan air bersih dan MCK,” ujar Iyus. Hal itu dibenarkan Refi Koswara,  Ketua RT 01/RW 15. “ Orang sebanyak itu, ditambah para relawan, kalau tidak ada penambahan saluran air dan MCK darurat, cukup menyusahkan,”  katanya.
 
Refi Koswara menambahkan, senyaman apapun diberikan kepada para pengungsi, tidak akan membuat betah. “ Paling mereka bertahan satu sampai dua minggu. Setelah itu mereka ingin kehidupan normal kembali sebagaimana sediakala,” katanya. 
 
Refi berharap pihak-pihak yang terkait dengan ‘nasib’ para pengungsi segera mengambil keputusan tentang rencana-rencana yang akan dilakukan untuk membantu para pengungsi pasca bencana longsor terjadi
 
Sebanyak 203 Pengungsi korban longsor  di Kampung Cibitung, Desa Margamukti, Kecamatan Pengalengan, Kabupaten Bandung mengakui bantuan pangan dan obat-obatan sangat berlimpah. Hanya yang sedikit susah adalah ketersediaan air bersih dan MCK.(ajm)